Juventus kembali harus puas berbagi satu angka dengan sang lawan. Setelah di laga midweek bermain seri 1-1 dengan Bologna, Si Nyonya Tua asuhan Antonio Conte menyudahi laga di rumah Catania pada Minggu (25/9) dengan skor identik.
Kendati demikian, hasil ini belum menggeser posisi Juve di pucuk klasemen bersama Udinese, yang kebetulan juga memiliki jersey utama berwarna sama, hitam-putih.
Conte melakukan perubahan terhadap skema pasukannya dalam gim di Stadion Angelo Massimino ini.
Sang allenatore meninggalkan formasi 4-2-4 dan menggantinya dengan pola 4-2-3-1, dengan trio Milos Krasic-Arturo Vidal-Eljero Elia menyokong Alessandro Matri sebagai ujung tombak tunggal. Andrea Pirlo dan Claudio Marchisio tetap ditugaskan mengisi gelandang tengah.
Kubu tuan rumah asuhan Vincenzo Montella membuka keunggulan terlebih dahulu di menit ke-22 ketika Gonzalo Bergessio mengungguli Giorgio Chiellini untuk menyontek umpan silang rendah winger Alejandro Gomez.
Juventus lantas mulai membangun serangan demi serangan untuk melesakkan gol balasan. Sejumlah kans pun terlahir, namun tak satu pun yang bisa dikonversi menjadi gol hingga babak pertama berakhir.
Empat menit menginjak paruh kedua, barulah Juve mendapatkan hasil. Antisipasi buruk kiper Mariano Andujar terhadap tembakan keras Milos Krasic setelah menerima sodoran Vidal membuat bola berakhir di dalam gawang Catania.
Tak berapa lama kemudian, Bergessio nyaris membawa timnya kembali memimpin, namun penyelesaiannya dari jarak dekat, hanya sekitar enam mehttp://www.blogger.com/img/blank.gifter, justru melambung tinggi, meski eks striker Saint-Ettiene ini pada akhirnya dinyatakan off-side.
Permainan terus berjalan terbuka hingga menit-menit penghabisan. Namun, di menit ke-80 sebenarnya Juve bisa saja unggul. Alesandro Del Piero, yang turun menggantikan tempat Matri, berada dalam posisi bebas saat menerima crossing Krasic, namun sundulannya justru melenceng dari sasaran.
Di masa injury time, Gomez di sisi Catania serta Vidal di kubu Juve juga tak mampu mengonversi kans yang mereka peroleh. Tembakan kedua pemain ini melayang di atas mistar.
TRANSLATE
25 September 2011
Juventus Tertahan Lagi
26 Februari 2010
Sissoko: Zac Seorang Jenius

Sejak pertama kali berbicara di depan pemain, Alberto Zaccheroni telah bisa meyakinkan semua pemain bahwa Juventus adalah tim besar yang mampu bangkit.
Gelandang Juventus Mohamed Sissoko memuji pelatih Alberto Zaccheroni setinggi langit, dengan menyebutnya seorang jenius.
"Zac, panggilan akrab Zaccheroni, tahu sepakbola dan punya pengalaman hebat," ujar Sissoko.
"Lebih dari itu, dia punya gagasan cerdas. Namun aspek yang kagumi dari dirinya adalah pengetahuan taktiknya. Dia benar-benar cerdas," lanjut Sissoko.
Bianconeri di bawah Zac belum terkalahkan, dan menang di tiga laga terakhir. Yang membuat terkesan Sissoko adalah ketika Juve membawa kemenangan dari Amasterdam ArenA, kandang Ajax, di leg pertama Liga Europa.
Malam ini, Juve akan menghadapi Ajax di Olimpico Turin, untuk menuntaskan langkah ke babak berikut Liga Europa.
"Sejak diskusi pertama, Zac telah membuat saya memahami betapa kami tim yang kuat. Ini amat penting bagi setiap pemain," kata pemain asal Mali itu.
goal.com
Jol Sambut Minat Juve Kepada Van Der Wiel

Pertemuan Ajax Amsterdam dengan Juventus pada laga kedua Liga Europa Kamis (25/2) malam ini juga dibumbui dengan minat klub Italia itu kepada bek Gregory van der Wiel.
Dalam konferensi pers prapertandingan, pelatih Ajax Martin Jol menyambut baik keinginan Juve merekrut pemainnya.
"Di Belanda dia yang terbaik di posisinya," ujar Jol, seperti dilansir Voetbal International.
"Dia sudah tampil untuk timnas Belanda. Dan saya harus tekankan, selama bertahun-tahun jadi pelatih, saya belum pernah melihat pemain dengan potensi sebesar dirinya."
goal.com
14 Februari 2010
Juventus Akhirnya Menang
Turin - Kemenangan yang ditunggu itu akhirnya datang juga. Setelah lima laga tanpa poin penuh, Bianconeri akhirnya bisa bernafas lega usai menundukkan Genoa 3-2.
Pada pertandingan yang dihelat di Stadion Olimpico Grande Torino, Minggu (14/2/2010) malam WIB, kemenangan Juventus ditentukan oleh tendangan penalti Alessandro Del Piero di menit 78.
Sebelumnya di babak pertama gol Marco Rossi di menit 16 berhasil disamai oleh Amauri Carvalho di menit 42. Del Piero kemudian mencetak gol kedua Juve di menit 61, sebelum Rossi membuat kedudukan menjadi 2-2 di menit 63.
Hasil ini juga menjadi kemenangan pertama Juve di bawah arahan Alberto Zaccheroni. Sebelumnya di dua laga awal dirinya memegang La Vecchia Signora, Zaccheroni hanya mampu mengantarkan timnya bermain 1-1 melawan Lazio dan Livorno.
Dengan hasil ini Juve naik ke posisi lima klasemen sementara dengan nilai 38 di tangan. Sedangkan Genoa turun ke posisi sembilan. I Rossoblu memiliki poin 35.
Susunan Pemain
Juventus: Gianluigi Buffon, Nicola Legrottaglie, Giorgio Chiellini, Jonathan Zebina, Martin Caceres, Mohammed Sissoko, Antonio Candreva, Diego, Paolo De Ceglie, Alessandro Del Piero, Amauri Carvalho.
Genoa: Marco Amelia, Dario Dainelli, Salvatore Bocchetti, Sokratis Papastrathopoulos, Alberto Zapater, Marco Rossi, Domenico Crscito, Giandomenico Mesto, Robert Acquafresca, Giuseppe Sculli, David Suazo.
detiksport.com
02 Februari 2010
Menanti yang Baru dari Zaccheroni

Turin - Alberto Zacceroni mengaku tidak berani mengubah strategi Juventus terlalu ekstrim kala berhadapan dengan Lazio di akhir pekan lalu. Namun dalam sepekan ini dia akan mulai membangun 'Bianconeri yang baru.'
Zaccheroni yang ditunjuk sebagai pelatih Juve seiring dengan dipecatnya Ciro Ferarra pada Jumat (29/1/2010) memang hanya memiliki waktu dua hari untuk mempersiapkan tim yang akan menjamu Lazio pada Minggu malam.
Dengan persiapan yang minim, mantan pelatih Lazio, Milan dan Inter Milan ini tetap memperagakan formasi 'berlian' yang biasa diperagakan Ferrara sejak awal musim dan berbuah dengan hasil imbang 1-1. Zaccheroni mengatakan bahwa dirinya tidak ingin para pemain kebingungan seandainya pada laga tersebut menerapkan taktik yang benar-benar diinginkannya.
Namun pelatih berusia 56 tahun ini tidak lagi akan menerapkan strategi yang seperti itu lagi kala berhadapan dengan Livorno di akhir pekan ini. Waktu selama satu pekan akan dimanfaatkan betul oleh Zaccheroni untuk menunjukkan perubahan optimal yang bisa dilakukannya kepada skuad Juve.
Belum jelas seperti apa taktik yang akan diperagakan, karena dia cuma membocorkan bahwa 'Zebra' akan dibuatnya memanfaatkan seluruh ruang yang ada. Besar kemungkinan Zaccheroni akan menerapkan formasi 3-4-3 yang sudah cukup identik dengannya dan akan menggunakan mulai strategi itu secara reguler.
"Melawan Biancocelesti saya melihat adanya perkembangan namun memang terlalu dini untuk mengubah sesuatu. Akan ada yang baru saat melawan Livorno nanti, saya tidak dapat melakukannya karena saya tak mau tim kebingungan," terangnya di Football Italia.
"Di laga terakhir itu kami bermain terlalu jauh dari pada membuka ruang yang kami tutup sendiri. Saya memiliki rencana untuk menerangkan kepada pemain saya secara lebih rinci," sambungnya.
detiksport
Zaccheroni Masih Perlu Waktu

Turin - Meski gagal mendulang tiga angka, pelatih baru Juventus, Alberto Zaccheroni melihat timnya telah berkembang. Dia pun mengaku tidak bisa langsung mengembalikan Bianconeri ke jalur kemenangan.
Debut Zaccheroni sebagai pelatih Juve hanya berakhir dengan hasil imbang. Menjamu Lazio di Stadion Olimpico Grande Torino, Senin (1/2/2010) dinihari WIB 'Zebra' harus puas mendulang satu angka hasil seri 1-1.
Meski imbang, Juve tampak begitu mendominasi di laga itu. Unggul penguasaan bola dengan perbandinan 63:37, tuan rumah melepaskan tujuh tendangan ke arah gawang dari 18 kali percobaan. Sedangkan Lazio cuma menembak ke gawang Juve sebanyak dua kali dari sembilan kesempatan.
Dan itu yang menjadi 'alibi' Zaccheroni terkait dengan hasil seri yang baru saja diperoleh anak asuhnya. Menurutnya untuk membenahi Juve yang tengah terseok-seok setelah menelan tiga kekalahan beruntun di ajang liga, tidak bisa dilakukan secara instan.
"Kami tidak bisa begitu saja langsung bersaing dengan Inter sedangkan di sisi lain mereka juga naik turun. Tim ini memiliki kualitas hebat dan sejak sekarang Anda dapat melihat bahwa mereka berkembang," jelasnya seperti diwartakan Football Italia.
"Malam ini Anda melihat mereka cukup bersemangat, sedangkan sisanya akan datang sendirinya bersama waktu. Saya yakin pada skuad ini. Mereka ingin sekali keluar dari situasi buruk ini dan itu membuat mereka bingung dan tidak efektif."
Mantan pelatih Milan, Lazio dan Inter Milan juga mengatakan bahwa target realistis bagi Juve saat ini adalah menggapai zona Liga Champions. 'Nyonya Tua' kini tertingal empat poin dari Napoli yang berada di urutan empat.
"Kami dapat kembali ke zona Liga Champions. Itu akan menjadi kemenangan bagi kami."
detiksport
31 Januari 2010
Pembenahan Mental Jadi Fokus Zaccheroni
Turin - Untuk membenahi Juventus yang tengah terpuruk, Alberto Zaccheroni perlu melakukan banyak hal. Dan pertama-tama dia akan mengangkat mental tim yang sudah jatuh.
Zaccheroni ditunjuk sebagai pelatih Juve pada hari Jumat lalu, setelah Ciro Ferrara yang dianggap gagal dan dipecat. Dia mendapat mandat untuk melatih Alessandro del Piero cs hingga akhir musim.
Namun tugas tak mudah membentang di hadapan Zacheroni. Dia harus mengembalikan Juve ke jalur kemenangan setelah di lima laga terakhir kalah empat kali.
Dalam pernyataannya setelah diangkat menjadi allenatore Bianconeri, Zaccheroni mengaku akan melakukan sejumlah perombakan pada tubuh tim. Dan belakangan dia menyebut mentalitas sebagai prioritas utamanya.
"Saya perlu untuk mengerti apa yang pemain-pemain butuhkan terkait dengan konsistensi secara psikologis. Menjaga mentalitas sepanjang waktu itu merupakan hal yang krusial," ujarnya di Football Italia.
"Saya akan bekerja untuk membawa mental juara yang baru, sesuatu yang kita sempat lihat di awal musim. Performa seluruh pemain di musim ini di bawah rata-rata."
detiksport
Zaccheroni Sang Master Taktik 3-4-3

Juventus akhirnya memilih Alberto Zaccheroni sebagai pelatihnya untuk menggantikan Ciro Ferrara yang dipecat. Dikenal sebagai master taktik 3-4-3, bagaimana wajah Juve nanti?
Zaccheroni dikontrak Juventus selama empat bulan ke depan, alias sampai akhir musim ini. Zac dipilih setelah Juve memberhentikan Ferrara yang gagal mengangkat prestasi 'Si Nyonya Tua'.
Juve memilih Zaccheroni sebenarnya lebih sebagai alternatif, atau bahkan karena kepepet. Pasalnya, Guus Hiddink dan Rafa Benitez yang didekati sebelumnya menolak tawaran itu.
Tapi Zaccheroni bukan pelatih sembarangan. Satu gelar scudetto kala menangani AC Milan jadi bukti tangan dinginnya. Selain itu, ia juga pernah mengantar Udinese finis di posisi tiga Seri A musim 1997-98.
Pencapaiannya bersama Udinese itulah yang menarik hati Milan kala itu. Selain dua klub tersebut, allenatore berusia 56 tahun itu juga pernah membesut Lazio dan Inter Milan.
Zaccheroni terkenal dengan taktik 3-4-3-nya. Karenanya, saat ia ditunjuk Juve menggantikan Ferrara, segera saja pertanyaan tentang seperti apa nantinya wajah Juve mengemuka karena selama ini Juve akrab dengan taktik 4-4-2 dan variasinya.
Melihat materi Juve saat ini, nyaris pasti akan terjadi penyesuaian drastis di sana-sini. Akan ada pemain yang posisinya diubah atau malah Zaccheroni yang dipaksa untuk merevisi taktiknya.
Berikut ini adalah data dan fakta Alberto Zaccheroni
-Lahir pada 1 April 1953 di Meldola, Emilia-Romagna, Italia.
-Tidak banyak yang bisa diketahui dari karir Zaccheroni sebagai pemain, karena cedera memaksanya pensiun dini. Ia memulai karir kepelatihan di usia 30 tahun, dengan menangani Cesenatico.
-Mengarsiteki sejumlah tim kecil dan menengah, di antaranya Venezia (1990-1993) dan Bologna (1993-1994).
-Nama Zaccheroni naik daun ketika ia membesut Udinese. Mulai menangani Zebrette sejak 1995, puncak karirnya di sana adalah membawa Udinese finis posisi tiga di musim 1997-98 dan Udinese lolos ke Piala UEFA.
-Keberhasilan Zac membesut tim semenjana seperti Udinese menarik hati AC Milan yang lantas mengontraknya tahun 1998. Di musim pertamanya menangani Rossoneri, Zac menghadiahkan scudetto.
-Scudetto jadi sukses tunggal Zac di Milan, yang kemudian memecatnya di tahun 2001 untuk kemudian digantikan Cesare Maldini.
-Tak lama menganggur, Zac digaet Lazio. Bertahan hingga 2002, beberapa hal yang diingat dari kiprah Zac di sana adalah ketika ia menempatkan Stefano Fiore dan Gaizka Mendieta di luar posisi aslinya.
-Dipercaya menangani Inter Milan tahun 2003. Juga kurang sukses, Zaccheroni diberhentikan tahun 2004. Dua tahun kemudian, ia menjadi pelatih Torino. Dipecat sebelum semusim.
-29 Januari 2010, menjadi pelatih Juventus setelah La Vecchia Signora memecat Ciro Ferrara.
detiksport
Boban Pertanyakan Keputusan Pengangkatan Zaccheroni

Keputusan Juventus menunjuk Alberto Zaccheroni sebagai pelatih pengganti Ciro Ferrara dikecam Zvonimir Boban. Mantan pemain AC Milan itu menilai Juventus telah membuat keputusan yang sama sekali tidak tepat untuk semua pihak.
Menurut Boban, Juventus salah menunjuk Zac hanya untuk menangani tim selama setengah musim. Ia juga menilai Zac juga salah menerima tawaran Juventus, karena menurutnya Zac tidak menghormati masa lalunya sebagai pelatih hebat, yang sempat membawa AC Milan meraih scudetto.
"Juventus telah menunjukkan minimnya pengetahuan menangani masalah mereka dengan menunjuk Zac sebagai pelatih caretaker," kata Boban kepada Sky Sports, Sabtu (30/1).
"Alberto memenangai scudetto dan minim sekali penghormatan dari kedua pihak. Contohnya, Juventus tidak menghormati Ferrara dan Zaccheroni juga tidak menghormati masa lalunya. Saya rasa akan sulit bagi seseorang sepertinya untuk mengambil alih tim di tengah musim kompetisi."
"Juventus menginginkan Benitez, tapi malah mendatangkan Zac, seseorang yang selalu bermain dengan tiga pemain belakang. Saya sama sekali tak mengerti. Jika Juventus menginginkan Benitez, saya tak bisa mengerti bagaimana Zac akan melihat tim untuknya. Ia adalah orang yang butuh waktu dan saya tidak melihatnya sebagai cartaker. Lebih baik mempertahankan Ferrara saja," tandasnya.
goal.com
Bettega: Ini Bukanlah Juventus Yang Sesungguhnya
.jpg)
Setelah menyepakati pelatih Alberto Zaccheroni, wakil direktur umum Juventus Roberto Bettega menyatakan Bianconeri harusnya bisa lebih baik lagi dari yang sudah diperlihatkan selama ini. Ia yakin pelatih anyar ini akan bisa membantu skuad Si Nyonya Tua ini tak lagi melempem dari persaingan yang ketat di kompetisi domestik.
"Bersama Zaccheroni ini kami setuju kalau ini bukanlah Juventus yang sesungguhnya. Tapi kami yakin akan bisa berbuat lebih baik lagi karena potensi yang kami miliki ini jauh lebih besar dari apa yang ada sekarang," kata Bettega.
Saat ditanya perihal mantan pelatih Ciro Ferrara, mantan striker Italia ini menyatakan tak ada maksud apapun niat untuk melukai hati Ferrara. Namun dia menegaskan segalanya harus bisa segera ditingkatkan lagi.
"Bersama dengan dengan presiden [Jean-Claude] Blanc, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ferrara dan stafnya. Tapi saya juga harus menyampaikan tujuan kami adalah bagaimana membawa tim ini dan para pemain bisa bermain pada level yang sepantasnya."
goal.com