St Petersburg - Zenit St. Petersburg kedatangan Juventus dalam matchday 5 Liga Champions pekan ini. Menang adalah sebuah keharusan buat Andrei Arshavin dkk mengingat dua hal penting bergantung dari sana.
Dengan empat poin dari empat pertandingan, posisi Zenit untuk lolos dari Grup H tidaklah bagus. Mereka hanya berada di atas BATE Borisov dan terpaut angka cukup jauh dari Juve dan Real Madrid.
Jika gagal mengalahkan Bianconeri di Petrovsky Stadium, Rabu (26/11/2008) dinihari WIB, dan kalau Real Madrid tidak kalah dari BATE, maka klub Rusia berjulukan The Sky Blues itu bakal tersingkir. Paling banter mereka melanjutkan kiprahnya di Eropa di kelas Piala UEFA, di mana musim lalu mereka adalah juaranya.
Misi kedua dari keharusan menang atas Juventus adalah mempertahankan selama mungkin kesempatan main di Liga Champions musim depan. Misi yang satu ini memang sungguh berat, karena syaratnya hanya satu: juara.
Musim ini Zenit hanya finish di urutan kelima Liga Rusia dan kehilangan mahkota yang diraih musim lalu. Tim asuhan Dick Advocaat ini menutup musim dengan kemenangan 3-1 atas Spartak Moskow pada Sabtu (22/11/2008) lalu. Namun peringkat mereka tidak terdongkrak sampai ke zona Liga Champions.
"Tentu saja, finish di posisi kelima sangat mengecewakan untuk klub dan suporter," tukas Advocaat seperti dilansir Yahoosports.
"Liga ini (Rusia) sangatlah panjang dan merupakan musim yang berat. Sekarang kami memiliki dua pertandingan sisa (di Liga Champions) dan kami ingin mengakhiri tahun dengan catatan yang hebat," sambung pelatih asal Belanda ini.
Asa Zenit mewujudkan misi penting mereka tidak akan mudah, apalagi Juventus tengah menjalani tren positif mereka di Liga Champions. Mereka dua kali membantai El Merengues, dan menekuk Zenit 1-0 di Turin di pertemuan pertama. Juve juga akan tampil tanpa beban karena hanya perlu tambahan satu poin untuk memesan tiket ke babak knockout.
Namun absennya para pemain Juve macam Gianluigi Buffon, Tiago Mendes, David Trezeguet, dan Christian Poulsen bisa dimanfaatkan oleh Zenit yang akan tampil full-team. Bek Sebastien Puygrenier telah melewati hukuman larangan tampil akibat akumulasi kartu.
Bisa wujudkan misi, Zenit?
TRANSLATE
24 November 2008
Jelang Zenit vs Juve
Vialli : Pindahlah ke City, Buffon!
Gianluca Vialli menganjurkan Gigi Buffon untuk mempertimbangkan tawaran Manchester City. Pernyataan mengejutkan datang dari Gianluca Vialli mengenai tawaran Manchester City untuk membeli Gianluigi Buffon dari Juventus.
Mantan pemain Juventus dan juga pelatih Chelsea itu malah menganjurkan kiper nomor satu Italia tersebut untuk meninggalkan Turin dan pindah ke City of Manchester Stadium.
Manajemen City dilaporkan telah menyiapkan kontrak bernilai total €50 juta atau €15 juta setahun untuk membuat Buffon menjadi benteng pertahanan terakhir City.
"Saya tak terkejut mengenai tawaran bagi Buffon. Pemilik klub dari Arab itu memang memiliki banyak uang dan saya rasa mereka ingin membangun tim yang kuat."
"Buffon adalah pemain yang diperlukan untuk membentuk sebuah tim, tetapi akan sulit sekali bagi Juve untuk mendapatkan penggantinya bila ia keluar karena tak ada pemain setingkat Buffon yang dapat mengambil tempatnya."
"Akan masuk akal bila Buffon pindah, bila saya jadi dirinya maka saya pastinya akan mempertimbangkannya, karena €15 juta itu besar sekali," kata Vialli kepada Sky Sport Italia.
Walaupun demikian, pihak Bianconeri dan agen Buffon telah mengatakan kalau pemain berusia 30 tahun itu tak akan dijual.
Datanglah ke Turin,Bastian...

Turin - Juventus tetap memantau pemain lini tengah untuk mengantisipasi pensiunnya Pavel Nedved. Selain Diego, klub raksasa Turin ini juga sedang menunggu perkembangan Bastian Schweinsteiger.
"Si Nyonya Tua" boleh menaruh harapan tinggi pada gelandang internasional Jerman itu karena hingga kini pemain yang bersangkutan belum memperpanjang kontraknya dengan Bayern Munich, dari yang akan berakhir pada musim panas 2009.
Jika Schweinsteiger tidak juga membubuhkan tanda tangannya di atas kertas kontrak baru di Bavaria sampai akhir tahun ini, maka Juve bisa mulai melakukan pendekatan langsung dengan dia mulai Tahun Baru.
Menurut kabar yang dihembuskan Gazzetta dello Sport, direktur sport Juve, Alessio Seccho, terus memantau Schweinsteiger sebagai sebuah opsi bagus menggantikan Pavel Nedved, yang di akhir musim diperkirakan gantung sepatu. Kontrak empat tahun dengan bayaran 3,5 juta euro per musim sudah disiapkan.
Juga, kalau Bayern gagal meyakinkan Schweinsteiger untuk segera mengikat kontrak anyar di Allianz Arena, bisa saja klub raksasa Jerman itu melepas pemain berusia 24 tahun itu pada bursa transfer musim dingin nanti. Harga bandrol buat dia ditaksir 15 juta euro.
Sebagaimana sering diisukan, Juve juga mengincar playmaker Werder Bremen, Diego. Namun, hingga kini Bremen memasang harga tinggi pada bintang internasional Brasil itu.
Di masa lalu Juve pernah memiliki pemain Jerman yang terbukti sukses berkarir bersama "Si Zebra", di antaranya Helmut Haller, Juergen Kohler, Thomas Hassler, dan Andreas Moeller
NEWS : Tiago absen sebulan
Saat Juventus bertemu dengan Inter Milan dalam laga derby d'Italia, gol tunggal Ali Muntari membuat Nerazzurri menambah raihan poin sebanyak tiga.
Hasil tersebut membuat Juventus semakin jauh dari pimpinan klasemen Inter Milan, berjarak enam poin. Bahkan, kekalahan ini menjadi akhir dari kemenangan beruntun Juventus.
Tidak hanya itu, pemain Juventus Tiago Mendez mengalami cedera saat berlaga dan memaksa sang pelatih Claudio Ranieri menariknya keluar dari lapangan.
Hasil tes yang dilakukan setelah pertandingan menyatakan, Tiago
tidak mengalami kerusakan pada bagain ligamen, namun lutut kirinya mengalami masalah.
Untuk sementara, tim dokter memperkirakan, pemain tengah Juventus tersebut harus menjalani masa istirahat antara 30 hingga 40 hari.
23 November 2008
PSS NEWS : PSS Dikalahkan Persema Di Kandang
Persema Malang membuat PSS Sleman harus menanggung malu. Mereka menggilas tim tuan rumah dengan skor 4-1 pada lanjutan kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2008 Wilayah Timur di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Senin (24/11).
Pada babak pertama, Persema sudah unggul melalui tendangan kaki Kamri pada menit 27. Namun, PSS menyamakan kedudukan menjadi 1-1 melalui tendangan Dicky Gautama dari titik penalti pada menit 33.
Menjelang pertandingan di bawah guyuran hujan deras sejak awal hinga akhir itu usai, Persema menambah satu gol. Tendangan pojok yang dilakukan Pitono pada menit ke-41 membentur kaki pemain belakang PSS, Piper Lipede, yang membuat bola melesak ke gawang PSS sendiri sehingga kedudukan berubah menjadi 2-1 untuk Persema.
Usai jeda, Persema langsung menggebrak. Hasilnya mereka peroleh pada menit ke-48, ketika bola sundulan Hasmoko tak bisa dihalau penjaga gawang tuan rumah, membuat skor menjadi 3-1.
Defisit dua gol membuat para pemain PSS berusaha tampil lebih agresif untuk mengejarnya. Tak ayal, barisan belakang PSS kehilangan konsentrasi sehingga Persema yang mengandalkan serangan balik setelah unggul, bisa menambah satu gol lagi.
Pada menit ke-72, Persema memperoleh sepak pojok yang dilakukan Pitono. Tendangannya yang melambung ke arah gawang disambut Patrick dengan sundulannya sehingga menghasilkan gol untuk mengubah skor jadi 4-1 yang bertahan sampai laga usai.
Pelatih PSS, Yudhi Suryata, mengatakan timnya kalah segalanya dari Persema. Baik materi pemain maupun kolektivitas permainan, mereka belum bisa mengimbangi lawan.
Sementara itu pelatih Persema, Subangkit, mengatakan bahwa timnya bisa memanfaatkan peluang yang ada.
PROFIL : GIORGIO CHIELLINI
Giorgio Chiellini (born August 14, 1984 in Pisa) is an Italian footballer who currently plays for Juventus of the Italian Serie A. He is a centre back who started his career playing as a left-back.
[edit] Club career
[edit] Early years
Giorgios parents are called Fabio and Lucia, he is one of three siblings, his twin brother Claudio and a brother & sister Giulio and Silvia. He started playing at 6 years of age for Livorno and at first was used as a central midfielder. As he grew up, he was switched on the wing and finally he found his position as a lateral defender. These days, thanks to his flexibility, he can be employed as a central defender too.
[edit] Juventus
He was signed by Juventus in summer 2004, for €6.5 million, but immediately sold on co-ownership deal to Fiorentina for €3.5 million, where he played for 2004–05 season.
After an excellent first season in Serie A, Chiellini was recalled by Juventus for the 2005–06 season, where Juventus paid €4.3 million for full-ownership. He has been a regular fixture in the Bianconeri backline in their return to Serie A and was named "Man of the Match" in a game against Inter Milan when he won a physical and heated duel with ex-Juve teammate Zlatan Ibrahimović, allowing the in-form hitman no goals. Chiellini extended his original contract from until 2009 to 2011 on October 12, 2006.[1]
After the Calciopoli scandal, Chiellini was a starter for Juventus in Serie B. After their triumphant return to Serie A, Giorgio Chiellini was converted by coach Claudio Ranieri into a center-back, having played left back in his career until this point. Chiellini had a tremendous season, named by many as the best center-back in all of Serie A. Alongside his reborn center-defense partner Nicola Legrottaglie, the duo led Juventus to the 2nd-least conceded goals for the season, despite many penalties awarded against Juventus controversially. The surprising aspect of this is that neither were considered remotely close to pinning down a center-back position in the summer before the season, with Domenico Criscito and Jorge Andrade preferred as the starting duo.
On August 17, 2008 Giorgio injured his left knee again during the Trofeo Luigi Berlusconi. The extent of the damage is yet to be determined, but he will be unable to play for at least 6 weeks, possibly even 6 months. However, he returned marvelously fast to duty, after only a month out. Despite this, many Juventus supporters believe he is not fully healed as he has made two uncharacteristic mistakes that led to goals in recent weeks.
[edit] International career
Chiellini made his debut for the Italian national team in November 2004 against Finland, and has since become a regular squad member. He won the European Under-19 Championship with Italy in 2003, and was also a member of the Italy team that won the bronze medals at the football tournament of the 2004 Summer Olympics. He was named in the 'UEFA Team of the tournament' of the 2007 U-21 Championships held in the Netherlands where they qualified for the 2008 Summer Olympics.
He was called up to Italy's squad for Euro 2008, however Chiellini stood out more in that tournament for injuring fellow team mate and former FIFA World Player of the Year Fabio Cannavaro in a training session at Coverciano. He initially was sidelined in the opening game against the Netherlands, Italy went on to lose the match 3-0 and Chiellini eventually received the nod to partner Christian Panucci at centre back after disappointing displays from Andrea Barzagli and Marco Materazzi in the opening match. Chiellini settled into the team by playing the next group matches against Romania and France his best display was to come against Spain where he kept both David Villa and Fernando Torres out of the game, although Italy lost the match on penalties with Iker Casillas saving both Daniele De Rossi and Antonio Di Natale's penalties.
[edit] International goal
Updated to games played November 21, 2007.[2]
# Date Venue Opponent Score Result Competition
1. November 21, 2007 Modena, Italy Faroe Islands 3–0 3-1 UEFA Euro 2008 Qualification
[edit] Personal life
Girgio Chiellini is close friends to A.S. Roma player Alberto Aquilani, where they first met training for the Italian National youth team. They keep in contact and on a numerous number of occasions Chiellini has hinted to Aquilani that life in Turin is beautiful and that he should consider moving to Juventus. He achieved a high school diploma in scientific subjects and was thus able to enrol at Turin University, where he's currently studying Business.
POJOK JUVE : Lagu Juventus
Tahukah anda bahwa Juve mempunyai anthem yang selalu dinyanyikan di stadion berjudul Juventus Inno, lagu ini diciptakan tahun 2002. Berikut liriknya
Forza la juve la juve la juve ale'
e'bianconera la bella signora
ale'la juve la juve la juve ale'
solo la juve e' grande la juve ale'
Tu sei la squadra del cuore
sempre in campo undici eroi
vinci l'impossibile e vai
Ti seguiremo anche noi
metti un 'altra stella sul petto
mille mani al cielo per te... insieme
l'onda di una magica ora partira
Forza la juve la juve la juve ale'
e'bianconera la bella signora
ale'la juve la juve la juve ale'
solo la juve e'magica juve ale'
forza la juve la juve la juve ale'
e'bianconera la nostra bandiera
ale'la juve la juve la juve ale'
solo la juve e'grande la juve ale'
JUVE...JUVE...JUVE...JUVE!!
Notte di coppa campioni
notte che non finira mai
grande l'emozione che dai
quando tu vinci per noi
Tutti allo stadio a sognare
Aspettando l'urlo di un goal...insieme
l'onda di una magica ora partira
Forza la juve la juve la juve ale'
e'bianconera la bella signora
ale'la juve la juve la juve ale'
solo la juve e'magica juve ale'
forza la juve la juve la juve ale'
e'bianconera la nostra bandiera
ale'la juve la juve la juve ale'
solo la juve e'grande la juve ale'
JUVE......JUVE!!!!!
Forza la juve la juve la juve ale'
e'bianconera la bella signora
ale'la juve la juve la juve ale'
solo la juve e'magica juve ale'
forza la juve la juve la juve ale'
e'bianconera la nostra bandiera
ale'la juve la juve la juve ale'
solo la juve e'grande la juve ale'
Forza la juve la juve la juve ale'
e'bianconera la bella signora
ale'la juve la juve la juve ale'
solo la juve e'magica juve ale'
Derbi d'Italia dimenangkan Inter
Inter Milan 1 - 0 Juventus
Inter menyambut Juventus di Stadio San Siro dalam laga terpanas musim ini "Derby of Italy". Pelatih Nerazzurri Jose Mourinho menggunakan formasi berbeda dari biasanya, 4-1-3-2, dengan menjatuhkan pilihan penyerang pada Zlatan Ibrahimovic dan Adriano.
Sementara itu, Claudio Ranieri tetap yakin dengan formasi biasa yang digunakan, 4-4-2. Ia memercayakan lini depan kepada Alessandro Del Piero --sekaligus kapten-- dan Amauri.
Tidak lama dari babak pertama dimulai, tiga menit, Juventus terpaksa melakukan pergantian pemain. Adalah Tiago mengalami cedera, dan posisinya langsung digantikan oleh Claudio Marchisio.
Dominasi awal masih berada di tangan tim tamu, meski terlihat hanya untuk membatasi pergarakan permainan Inter ketimbang berusaha melakukan serangan-serangan tajam.
Namun, Inter tetap tampil menekan saat Walter Samuel melihat peluang kosong di tengah, menyodorkan bola kepada Dejan Stankovic sebelum kemudian langsung dipatahkan oleh Chiellini, meski sudah berada di depan Alex Manninger.
Juve menjadi berbahaya pada menit ke-25. Adalah Marco Marchionni membuat pergerakan cantik dari sayap kanan, menusuk ke tengah, memaksa Ali Muntari melakukan penyelamatan. Terlihat sedikit kesalahan, namun wasit memilih tidak menghadiahkan pinalti.
Inter terus berusaha mencetak gol. Pada menit ke-27, Zlatan berhasil tembus ke halaman belakang Juventus, mengecoh dua pemain belakang dan langsung melakukan tembakan ke arah gawang. Sayang, tendangan lemah tersebut terlalu mudah untuk ditangkap oleh Manninger.
Kebuntuan pada babak pertama masih berlanjut pada babak kedua. Baik Inter maupun Juve sama-sama agresif ingin mencetak gol.
Gol pun akhirnya tercipta pada menit ke-72 melalui tendangan Muntari. Gol yang tidak diduga-duga ini adalah bola muntah tendangan Ibrahimovic ke arah gawang yang menggelinding ke kaki pemain Gana tersebut.
Para pemain belakang Juve tidak berbuat banyak lantaran mereka berfikir Muntari berada pada posisi offside meski tidak demikian adanya.
Menit ke-82, hampir saja tecipta gol melalui sundulan Del Piero, hasil umpan tendangan bebas Mauro Camoranesi. Bola berhasil diselamatkan oleh Julio Cesar
Peluit kedua berbunyi, Inter keluar sebagai pemenang. Saat ini Inter berada pada puncak klasemen Serie A dengan 30 poin, sementara Juve meraih 24 poin.
Susunan Pemain:
Inter (4-1-3-2): Julio Cesar; Maicon, Materazzi, Samuel, Maxwell; Cambiasso; Zanetti, Muntari (90’ Vieira), Stankovic (85’ Burdisso); Ibrahimovic, Adriano (83’ Cruz). Coach: Mourinho.
Juventus (4-4-2): Manninger; Grygera, Legrottaglie, Chiellini, Molinaro; Marchionni (69’ Camoranesi), Sissoko, Tiago (3’ Marchisio), Nedved; Del Piero, Amauri (75’ Iaquinta). Coach: Ranieri.
21 November 2008
NEWS
Jelang Liga Italia
Memancing di Air Keruh 'Derby d'Italia
Read More
Jelang Derby d'Italia
Iaquinta: Juve Selalu Unggul
Read More
Elegan vs Sederhana
Read More
Mourinho dimata Ranieri

Turin - Claudio Ranieri berbicara soal pengalamannya disuksesi Jose Mourinho saat di Chelsea. Pembesut Juventus itu juga mengomentari perseteruannya dengan The Special One di awal musim. Apa saja komentar Ranieri?
Perseteruan antara dua pelatih ini bahkan sudah dimulai sebelum Seri A musim 2008/09 resmi dimulai. Pernyataan pedas Ranieri soal Mourinho langsung dibalas pelatih Portugal itu dengan komentar khasnya yang tak kalah pahit.
Perang antara keduanya kemudian tak berlangsung lama karena Mourinho kemudian kedatangan banyak "musuh" baru. Namun akhir pekan ini rivalitas keduanya akan kembali meletup saat Inter dan Juve saling berhadapan di pekan ke-13.
Lalu bagaimana sebenarnya Ranieri memandang Mourinho, pelatih yang menggusur dirinya saat di Chelsea dan kini untuk sementara melangkahinya mengingat Inter berada di puncak klasemen?
"Apakah saya menyukai sesuatu dari Mourinho? Ya, fakta bahwa para pemain selalu memuji dirinya berarti dia punya rapot yang bagus di sana," ungkap Ranieri pada La Gazzetta dello Sport seperti dikutip Channel4. "Tapi saya tidak suka caranya memicu kontroversi dari waktu ke waktu."
Saat ditanya soal pengalamannya digusur Mourinho saat masih bertugas di Stamford Bridge, pelatih 57 tahun itu menolak anggapan kalau perseteruan dirinya dengan Mourinho kini disebabkan masalah tersebut.
"Saya tahu kalau saat itu saya masih dalam masa-masa yang tak menentu, tapi saya masih yakin kalau saya telah menjalani musim yang hebat karena saya membawa Chelsea ke posisi empat tanpa uang banyak."
"Apakah saya cemburu pada Mourinho dengan gaji yang diterimanya? Sama sekali tidak. Semua orang mendapat sesuatu yang layak buat mereka. Saya bahkan tak tertarik dengan uang, itu bukan hal penting buat saya," lanjut mantan pelatih Valencia, Atletico Madrid, Napoli dan Fiorentina itu.
Di akhir wawancaranya Ranieri menyimpulkan kalau dirinya sama sekali berbeda dengan Mourinho. Meski gelar yang dikumpulkan belum sebanyak Mourinho, Ranieri merasa dirinya telah menjalani profesinya dengan baik.
"Fakta sederhananya adalah saya tak punya kesamaan dengan Jose. Dia mungkin sudah memenangi banyak tropi dan saya belum. Tapi saya sudah lama (berkutat) dengan sepakbola dan saya terus melakukan yang lebih baik, jadi saya pikir saya telah melakukan pekerjaan yang bagus," pungkas dia.